Rahasia
Kehebatan Madu yang Terungkap oleh Kedokteran Modern
Manusia
telah menggunakan madu untuk pengobatan, sejak zaman kuno. Salah satu mitos
yang populer di masyarakat adalah bahwa para peternak lebah bisa hidup secara
sehat dan berusia panjang, melebihi yang lain.
Para
ahli sejarah menyebutkan bahwa Phytagoras hidup dalam usia lebih dari sembilan
puluh tahun. Makanan pokoknya sehari-hari terdiri dari roti dan madu.Diskusi
tentang madu mendapat banyak perhatian dalam artikel-artikel yang
dipublikasikan selama beberapa tahun bela-kangan ini di majalah-majalah
kedokteran yang terpercaya, penulis akan mengutip sebagiannya sebagai berikut :
Bakteri Tidak Mampu Melawan Madu
Demikian
judul sebuah artikel yang dipublikasikan di Majalah Dis Lancet Infect, bulan
Februari 2003 M. Dalam artikel ini, Dr. Dixon menegaskan adanya kekuatan besar
di dalam madu yang mampu mengalahkan bakteri, di mana bakteri-bekteri itu tidak
mampu bertahan di hadapan madu. Penulis menganjurkan untuk menggunakan madu
dalam mengobati berbagai jenis luka, termasuk luka bakar.
Berbagai
riset ilmiah menunjukkan bahwa karakteristik fisikawi dan kimiawi madu,
misalnya tingkat keasaman dan pengaruh osmoticnya, yang berperan dalam
efektivitasnya membunuh bakteri. Di samping itu, madu memiliki spesifikasi anti
proses peradangan (inflammatory activity anti).
Hasil
terakhir adalah bahwa madu melawan pembusukan oleh bakteri dan mempercepat
pulihnya luka-luka, luka bakar, dan borok.
Penggunaan Madu Sebagai Antiluka
Dalam
sebuah artikel yang dipublikasikan dalam Majalah Ann Plast Surg, bulan Februari
2003 M, dilakukan penelitian terhadap 60 pasien berkebangsaan Belanda yang
terkena luka dalam, yang bermacam-macam, meliputi luka-luka menahun (21
pasien), luka-luka kompleks (23 pasien), dan luka-luka memar yang parah (16
pasien).
Para
peneliti menyatakan bahwa penggunaan madu mudah dilakukan bagi semua pasien,
kecuali satu orang, membantu pembersihan luka, dan tidak terjadi efek samping
apa pun dari penggunaan madu dalam pengobatan luka-luka tersebut.
Para
peneliti menyarankan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam Majalah
Arch Surgery tahun 2000 M digunakannya madu untuk melindungi garis tepi
luka-luka yang terjadi selama proses operasi pengangkatan tumor.
Madu dan Luka Bakar
Dalam
rubrik : “Luka Bakar” ; majalah Durns tahun 1996 M, telah dipublikasikan sebuah
artikel tentang penggunaan madu untuk pengobatan luka bakar. Artikel tersebut
menganjurkan penggunaan madu untuk luka bakar.
Madu Kaya Kandungan Antioksidan
Dalam
studi yang dipublikasikan pada bulan Maret 2003 M di Majalah Agric Food Chem,
para peneliti membandingkan antara pengaruh konsumsi minuman jagung atau madu
dengan takaran 1,5 gr/kg berat badan terhadap efektivitas antioksidan. Kandungan
plasma antioksidan fenolic telah bertambah dengan persentasi lebih tinggi
setelah mengkon-sumsi minuman madu daripada setelah mengkonsumsi minuman
jagung. Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa antioksidan fenolic yang ada
di dalam madu memiliki daya aktif tinggi serta bisa meningkatkan perlawanan
tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress).
Madu dan Kesehatan Mulut
Profesor
Amoln menegaskan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh Majalah Dentgen
pada bulan Desember 2001 M, bahwa madu bisa memainkan peran penting dalam
pengobatan penyakit-penyakit gusi, sariawan, dan berbagai gangguan mulut
lainnya, hal itu disebabkan madu memiliki spesifikasi anti bakteri.
Madu dan Pengobatan Infeksi Selaput Lendir Akibat Radiasi
Dalam
sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Majalah Support Care
Cancer, pada bulan April 2003 M, telah dilakukan terhadap empat puluh pasien
yang mengidap kanker di kepala dan leher dan mereka itu membutuhkan
penyinaran (radio therapy).
Para
peneliti berkesimpulan bahwa pemberian madu secara lokal pada saat dilakukannya
radioterapi merupakan metode terapi yang efektif, serta tidak memberatkan untuk
men-cegah terjadinya infeksi selaput lendir di mulut.
Antara Madu dengan Infeksi Lambung (Maagh) dan Tukak Lambung
Dalam
sebuah studi yang dipublikasikan dalam Majalah Pharmacolres tahun 2001 M, para
peneliti menyatakan bahwa madu bisa membantu pengobatan infeksi lambung.
Para
peneliti juga melakukan penelitian lain tentang pengaruh madu alami terhadap
bakteri yang terbukti bisa menyebab-kan terjadinya tukak lambung atau infeksi
lambung, yang dikenal dengan sebutan bakteri pylori. Diperoleh kejelasan bahwa
pemberian cairan madu dengan konsentrasi 20% bisa melemahkan bakteri tersebut
di piring percobaan. Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Majalah Tropgastroent tahun
1991M.
Madu Mencegah Terjadinya Radang Usus Besar (Colitis)
Bisakah
madu mencegah terjadinya radang usus besar pada tikus? Itulah pertanyaan yang
dilontarkan oleh para peneliti di Universitas Raja Saud di Kerajaan Saudi
Arabia. Pertama-tama mereka menciptakan terjadinya infeksi colon pada
tikut-tikus percobaan tersebut dengan melukai tikus-tikus itu dengan acetic
acid, setelah tikus-tikus itu diberi
madu, glukosa, dan fruktosa melalui mulut dan anus selama empat hari. Para
peneliti berhasil mengetahui bahwa madu bias berperan baik dalam melindungi
colon dari luka-luka yang biasa ditimbulkan oleh asam asetat.
Madu dan Kulit Kepala
Karena
madu berkhasiat membunuh bakteri, sekaligus ber-fungsi sebagai anti jamur dan
antioksidan, serta memiliki kandungan gizi yang tinggi, maka seorang peneliti
bernama Dr. Wailial telah melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui pengaruh
madu dalam mengobati dermatitis (infeksi kulit) karena minyak dan ketombe.
Hasil-hasil
penelitiannya dipublikasikan dalam majalah Eurjmealres pada tahun 2001 M. Ia
telah mempelajari 31 pasien yang terkena infeksi kulit karena minyak yang
kronis, yang mengenai kulit kepala, wajah, dan bagian depan dada. Mereka itu
terdiri dari dua puluh orang pria dan sepuluh orang wanita, usia mereka
berkisar antara 15-60 tahun.
Penyakit-penyakit
kulit yang ada pada mereka menimbulkan sisik-sisik putih di atas permukaan
kulit yang kemerah-merahan. Para pasien diminta memakai cairan madu dengan
konsentrasi 90 % (madu yang dicampur air hangat) dua hari sekali di
bagian-bagian yang terinfeksi di kepala dan wajah sambil diurut-urut pelan
terus-menerus selama 2-3 menit.
Madu
tersebut dibiarkan selama kurang lebih tiga jam sebelum dicuci dengan air
hangat. Para peneliti terus memonitor kondisi para pasien setiap hari,
khususnya terkait dengan keluhan gatal, ketombe, dan rambut rontok.
Terapi
ini dilakukan selama empat pekan, ternyata masing-masing pasien merespon baik
sekali terapi ini. Gatal dan ketombe mereka hilang selama satu minggu,
sedangkan penyakit-penyakit kulit sembuh dalam jangka waktu dua minggu).
Benarlah
firman Allah; Dari perut lebah itu keluar minuman yang beraneka ragam warnanya,
di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.
Madu
bisa menurunkan kadar gula di dalam darah para pengidap penyakit diabetes.
Bukti-bukti menguatkan bahwa di dalam madu terdapat unsur oksidan yang
menjadikan asimilasi gula lebih mudah di dalam darah, sehingga kadar gula
tersebut tidak terlihat tinggi.
Madu
merupakan nutrisi kaya vitamin B1-B5-C, di mana para pengidap diabetes sangat
membutuhkan vitamin-vitamin ini. Madu mengandung sekitar seratus unsur yang
berbeda-beda yang tergolong sangat penting bagi tubuh manusia, khususnya bagi
para pengidap diabetes)
Manfaat madu ini bisa dipastikan bila penyebab
kencing manis bukanlah tidak adanya insulin sama sekali, melainkan sulitnya
menstimulasi sel-sel yang memproduksi insulin di dalam darah. Dalam kondisi
seperti ini, sesendok kecil madu) akan menambah cepat dan besar kandungan gula
dalam darah, sehingga akan menstimulasi sel-sel pankreas untuk memproduksi
insulin. Tapi, pengidap kencing manis harus melakukan analisis darah sebelum
dan sesudah meminum madu, untuk menentukan takaran yang diboleh-kan untuknya di
bawah pengawasan dokter.Madu murni alami







0 komentar:
Posting Komentar